Punk Indonesia

Punk sebenarnya adalah bukan hanya sebuah musik atau fashion yang dipahami oleh orang-orang sekarang ini, tetapi punk sendiri yang sebenarnya adalah sikap yang muncul dari sifat memberontak, tidak puas hati, marah dan benci, dari sifat-sifat inilah maka lahirnya punk. Sifat-sifat itulah yang kemudian diaplikasikan ke dalam musik dan pakaian mereka. Menurut G. Widya sendiri adalah :
Kata ‘punk’ pertama kali muncul dalam esai tahun 1970 berjudul “The Punk Muse : The True Story of Protopathic Spiff Including the Lowdown on the trouble - Making Five - Percent of America’s Youth” yang ditulis oleh Nick Tosches di majalah Fusion. Nick mengatakan (baca:punk) bagai tangisan pedih menuju jurang omong kosong. Jika dalam pusisi, maka puisi itu dimuntahkan tanpa plot. Kala itu, banyak bermunculan music underground (bawah tanah) akibat dari kebosanan serta kegelisahan generasi muda generasi muda Amerika kalangan menengah ke bawah. Beberapa grup music underground bermunculan di Amerika seperti di New York ada New York Dolls di Mercer Arts Center, lalu Richard Hell, Television, The Ramones, The Dead Boys, Patti Smith, Rocket from the Tombs di CBGB - OMFUG (Country, bluegrass, Blues, an Other Music for Upliftig Gourmandizers). Sementara itu, di Detroit muncul band - band bawah tanah seperti The Electric Eels, Frction, dan Devo.
Mereka bosan dengan konsepsi musik yang bersifat konvensional dan ingin menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada. Mereka juga gelisah dan bosan karena resensi ekonomi yang sangat parah di Amerika sejak awal 1970-an alias krisis moneter yang diikuti kemerosotan moral para tokoh politik, Perang Vietnam, dan kegagalan Reaganomic (sebutan untuk kebijakan ekonomi Presiden Ronald Reagan). Krisis ini mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri penduduknya dan kesulitan ekonomi yang khususnya sangat dirasakan masyarakat kelas menengah ke bawah. Keadaan yang tak pasti tersebut mendorong mereka untuk menciptakan sebuah identitas yang bersuara.
Selanjutnya, sejak ulasan Nick Tosches, istilah punk makin dikukuhkan untuk menyebut scane musik bawah tanah yang tidak sepenuhnya bergerak di bawah tanah. Semua tentang konseps punk pada masa itu menggambarkan sesuatu yang menantang, mengganggu dan mengancam, yakni sesuatu yang ‘menarik ke sisi yang lebih gelap’. Kedatangan punk sebagai sebuah budaya perlawanan atau kebosanan dan kegelisahan dalam masyarakat ditandai dengan poster yang disebarkan di Kota New York, berbunyi: “WATCH OUT! PUNK IS COMING!” (G., Widya, 2010 : 11 - 12)
Menurut Fujiwara, punk lahir pertama kali di Amerika pada awal tahun 1970an, tetapi pada saat itu musik punk tidak begitu diterima oleh rakyat Amerika karena rakyat Amerika tidak bisa menerima musik ini secara keseluruhan, musik Punk begitu extreme dan termasuk kategori aggressive band membuat rakyat Amerika tidak bisa menerima musik ini sepenuhnya. Perintis musik punk pada masa itu (tahun 70-75an) seperti The Ramones, Iggy Pop, Patti Smith, New York Dolls dan Modern Lovers. Kemudian pada saat pertengahan tahun 70an, keadaan di Inggris menjadi berbeda dengan apa yang terjadi di Amerika, karena di Inggris pada saat itu musik Punk mendapat respon yang sangat bagus, musik punk menjadi begitu terkenal karena pada masa itu rakyat Inggris membutuhkan suatu wadah untuk menyuarakan pemberontakan, dengan keadaan ekonomi di Inggris yang sedang kacau menjadikan faktor yang paling mempengaruhi diterimanya punk di Inggris. Dari sini lah revolusi punk yang sebenarnya berawal.
http://kaemrider.blogspot.com/2009/11/pengertian-punk.html (diakses 25 Juli 2010)
Fujiwara juga mengungkapkan, pada saat itu Punk dan Skinhead di Inggris adalah sosok-sosok dari kebanyakan remaja-remaja working class, pemberontakan yang mereka lakukan dikarenakan keadaan ekonomi dan sistem sosial di Inggris yang menindas. Sex Pistols adalah salah satu band punk yang berasal dari Inggris, kemunculan mereka pada ketika itu juga ikut meramaikan aliran punk dan juga menjadikan punk sangat terkenal sekali, dan kemunculan mereka pada saat itu merupakan momen yang pas dengan keadaan yang terjadi pada saat itu. Tidak hanya itu, band yang menamakan diriya Sex Pistols menjadi sangat kontroversial karena kelakuan mereka yang begitu ekstrim, mereka berani bersuara tentang penentangan mereka terhadap kerajaan Inggris, hal ini bisa dilihat dari lirik lagu-lagu yang mereka bawakan berikan tentang keganasan yaitu Facist, Riot, Chaos, Anarchy dan anti-kerajaan.
http://kaemrider.blogspot.com/2009/11/pengertian-punk.html

Pengaruh budaya punk di Indonesia sudah ada sejak tahun 1980-an, hal ini seperti apa yang diungkapkan G. Widya :
Pengaruh punk di tahun 1980-an juga telah tampak pada film Menggapai Matahari dengan pemeran utama Rhoma Irama. Dalam film itu punk digambarkan sebagai kelompok yang berperilaku menyimpag. Pada salah satu adegan, yaitu ketika Rhoma Irama manggung, terdapat figuran sekumpulan anak punk yang menghancurkan tempat pertunjukan (G., Widya, 2010 : 117).
G., Widya juga mengungkapkan latar belakang masuknya punk di Indonesia, di Amerika ataupun Inggris budaya punk hadir karena gejolak yang terjadi, tetapi tidak demikian dengan apa yang terjadi di Indonesia, budaya punk di Indonesia cenderung lahir karena kerinduan akan sesuatu yang baru sebagai aktualisasi para remaja. Pemberitaan yang ada di media mainstream menjadi pertanda dikenalnya punk di Indonesia. Musik dan fashion adalah bentuk kultur punk pertama kali dikenal. Bukanlah hal yang mengherankan ketika di dalam masyarakat timbul anggapan keliru tentang punk dan juga permasalahan nyata sekitar punk. Hanya saja, adopsi mentah secara mencolok mengakibatkan punk dicap negatif telah menjadi keterlanjuran (G., Widya, 2010 : 117).
Perkembangan punk di Indonesia kemudian menjadi begitu pesat. Salah satu bentuk perkembangan mereka yaitu Komunitas Taring Babi yang berdiri sejak tahun 1996, dan diduga jumlah mereka sangat banyak karena hampir di tiap kota di Indonesia mereka mempunyai pengikut. Indonesia menjadi negara nomor satu dari banyaknya jumlah komunitas punk di dunia. Perkembangan komunitas punk ini juga dari masyarakat kelas menengah, karena akses informasi dengan mudah didapatkan di sana, dan kemudian perkembangan mereka merambah ke kelas menengah ke bawah, karena di sanalah tempat di mana banyak dari mereka yang tertindas oleh kemajuan zaman. Pandangan komunitas punk yang tertanam dalam benak masyarakat adalah merupakan murni pandangan yang salah. Kostum hitam-hitam, rambut mohawk, celana street dan sepatu bot merupakan aksesoris lazim yang biasanya dipakai oleh anak-anak punk.
Banyak sekali para remaja saaat ini yang memakai aksesoris punk, tetapi mereka tidak mengenal esensi dari punk itu sendiri. Menjadi punk merupakan suatu hal yang mudah, tinggal mengadopsi style komunitas punk sudah bisa dinamakan punk, tetapi menjalani kehidupan punk adalah merupakan sesuatu yang sangat sulit dan harus memegang filosofinya. Memang setiap dandanan tersebut ada maknanya, contohnya rambut mohawk sebagai bentuk penghormatan kepada suku Indian yang tertindas di Amerika dan sepatu bot sebagai penghormatan kepada kelas pekerja atau buruh yang awalnya sering memakai sepatu itu. Ada pendapat bahwa mereka adalah preman jalanan, namun perlahan-lahan persepsi yang berkembang di masyarakat itu ternyata adalah salah dan lambat laun komunitas punk mulai memperlihatkan kontribusinya kepada masyarakat. Komunitas punk bisa bertahan dan bahkan berkembang karena semangat yang mereka tawarkan.
Banyak sekali proses kreatif yang dilakukan oleh komunitas punk. Komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band yang tentunya memainkan musik punk sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang biasa disebut distro. CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesoris, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau.
Menurut Kusnadiyono, Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja barang-barang bermerk luar negeri seperti Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan yang lainnya. Inilah semangat pembangkangan yang mereka perjuangkan, bebas tapi tidak menganggu orang lain. Kontribusi lain yang diberikan seperti membersihkan kali atau musala yang rutin mereka lakukan bahkan di Yogyakarta kelompok Taring Babi memberikan pelajaran Bahasa Inggris, les gambar, dan membuka perpustakaan umum dengan tujuan mendekatkan komunitas punk dengan masyarakat. Komunitas ini mulai membuka diri ke media. Padahal mereka awalnya tidak percaya dengan media karena tidak ada obyektivitas dalam pemberitaan yang melihat punk dari segi fashion saja. Membuka diri ke media karena ingin memperlihatkan inilah wajah komunitas punk yang sebenarnya. Bahkan, komunitas Taring Babi di daerah Jagakarsa sering sekali diliput oleh berbagai media lokal maupun luar negeri, seperti dari Jerman, Irlandia, dan Jepang. http://kusnadiyono.blogspot.com/2009/09/punk-antara-antara-fashion-ideologi.html
No comments:
Post a Comment